1/1 pergi
Tidak ada alasan yang pasti kenapa tiba-tiba satu/satu dari mereka pergi dan enggan datang kembali. Padahal awalnya mereka hidup saling berdampingan, saling melindungi, saling memahami, saling berbagi hingga saling menyayangi. Rumah kecil berukuran setengah lapangan bola voli itu terlihat seperti sebuah Restoran baru yang kurang berpromosi, alias sepi.
Alkisah dahulu di rumah itu hidup beberapa orang pemuda yang sebagian besar dari mereka adalah pendatang di Kota yang pernah hancur oleh gempa dan gelombang tsunami 26 desember 2004 lalu. Semua merasa seperti seekor itik yang hilang dari kelompok dan menemukan keluarga barunya. Keluarga yang begitu demokrasi, tidak ada perbedaan gender, background atau umur sekalipun. Hingga akhirnya tidak satupun yang merasa sebagai minoritas atau mayoritas.
Namun ternyata kebersamaan itu tidak berlangsung lama, semua hancur dengan cepat dan mudah tanpa ada alasan yang pasti. Jangankan untuk kembali memperbaiki semua yang telah hilang, untuk sekedar say hi lewat pesan singkat (sms) saja, sepertinya masih enggan.
Kemesraan, kecerian dan kebersamaan itu pudar dan luntur tanpa sebab ?, hanya karena kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Namun, apakah diam adalah sebuah jawaban, atau kita semua hanya harus menunggu hingga nanti mereka mulai memungut kembali rasa sakit hati yang telah tercecer dan masih basah itu.
Add comment July 22, 2009
Sampaikan Damai lewat Didong
Ini adalah cerita seorang pemuda berumur 21 tahun, namanya Ervan Yoga, Evan sapaan akrab pemuda yg tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi di Takengon Aceh Tengah. Sebagai mahasiswa tidak ada yang menarik dari sisi hidupnya, setiap hari ia belajar keras untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang ahli di bidang pertanian.
Disisi lain sejak dilahirkan Evan mewarisi darah seni dari kakek dan ayahnya, dan bisa dibilang ini adalah bakat keturunan keluarga.
Dahulu kakeknya adalah seorang Ceh Didong, kesenian asli dari daerah dataran tinggi gayo. Dan kemudian ayahnya, yang juga pernah menggeluti dunia tarik suara sebagai seorang Ceh Didong di salah satu klub Didong yang ada di Aceh Tengah.
Dengan mengikuti berbagai pentas Didong, perjalanan karir Evan diawali sejak ia duduk di bangku kelas 1 SMP (sekolah menengah pertama). Karena bakat alami yang ia miliki Evan sempat tergabung di dua klub Didong ternama di Aceh Tengah, yaitu “Kemara Bujang dan “Kabinet Bebesen”.
Mengenang masa pahit ketika konflik masih berkecamuk di Aceh, bisa dikatakan Didong tidak pernah dipentaskan lagi, karena kesenian yang satu ini biasa dipentaskan pada malam hari, atau bahkan semalam suntuk. Kalaupun bisa, Didong tidak dipentaskan didaerah asalnya, malah didaerah luar Aceh.
Hal itu mengingatkan Evan kembali, ketika ia diundang untuk mementaskan Didong di Yogyakarta, namum pementasan itu gagal karena ia beserta rombongan tidak bisa keluar dari Aceh Tengah, jalan utama yang menghubungkan antara Bireun dan Takengon terlalu bahaya untuk dilewati di zaman konflik.
Kini angin segar perdamaian telah menghembuskan Didong untuk kembali dipentaskan didaerah asalnya, yaitu Aceh Tengah. Didong adalah seni tradisional yang dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan moral, agama serta pesan damai ketengah-tengah masyarakat.
Untuk Evan, Didong adalah kesenian asli daerah yang harus dipertahankan, tapi sayang sekarang tidak banyak pemuda sepertinya, yang mau peduli terhadap seni budaya leluhur. Evan sendiri khawatir, kalau-kalau sudah tidak ada lagi generasi yang mau mementaskan Didong. Sebuah kesenian yang memainkan syair-syair indah, yang berisikan pesan-pesan moral, agama serta damai.
Add comment July 21, 2009
Masih Abu-abu
Kalau hidup ini hanya dikaitkan dari warna dasar, maka iya akan merah, kuning, dan biru. Tapi 3 warna dasar itu terlalu mustahil untuk merangkumkan cerita dalam hidup yg terkadang harus mendengar, melihat, merasakan, menhormati, hingga nantinya harus memutuskan. Maka tepatlah untuk orang-orang yang mengatakan hidup itu adalah warna-warni.
Dalam sebuah perjalanan yang sangat sulit dan berkatalah seseorang dengan yakinnya, “inilah kenyataan”. Namun apakah kita harus langsung percaya dengan perkataan tadi, meskipun dya berjalan disamping kita, dya ikut merasakan, ikut melihat, dan ikut memutuskan.
Itu saja belum cukup, dalam perjalanan seharusnya iya juga memiliki rasa menghormati, sedekat apapun hubungan itu, mau itu sahabat, adik, kakak, abang dan saudara sekalipun. Ia harus mengingat setiap manusia memiliki hati, memiliki pola pikir, memiliki sikap yang semua itu tidak pernah sama, walau kembar siam sekalipun.
Kalau saja semua orang mau berpikir akan impact dan efect dari sebuah perkataan dan tingkah laku dari perbuatan, mungkin kaka, bimbim dan teman-teman yang tergabung dalam Group music slank tidak akan menciptakan lagu dengan judul orkes sakit hati.
Karena ketika rasa sakit itu datang lagi, serapat apa kita menyimpan suatu kebencian? setabah apa kita menahan hujatan? sekuat apa kita menahan nafsu emosi? dan sebijaksana apa kita berpikir dan memutuskan. Hingga akhirnya merah, kuning, biru hanya menjadi dasar dari sebuah warna. Meskipun abu-abu menjadi warna paling dominan dalam setiap pilihan dan iya bisa menjadi hitam atau putih sekalipun, itu hanya akan menjadi suatu pilihan nantinya.
Add comment July 18, 2009
Dari dya
Sekitar jam 20.00 wib aku terima sms yg berisi…
Perasaan ini aneh.
Merasakan hal yang berlawanan sekaligus dalam satu waktu.
Memilih yg lebih baik atau yg terbaik
Aneh…
Antonimpun terkadang dapat menjadi sinonim.
Lelah….
Note :
Untuk kamu yang merasa…
Tanya pada hati kecil..
Aku tau siapa pengirim sms ini..
Dia adalah seorang perempuan yang aku kenal sejak tiga tahun yang lalu..
Cuma bisa bilang makasih untuk smsnya…
Lumayan bagus….hehehe
2 comments March 31, 2009
Akankah…???
Rasanya “Tuhan” tidak adil, kenapa..? ia begitu cepat mengambil semua kebahagian yg baru saja disematkan dalam hidup yg berwarna abu-abu ini. Seperti bayi yg baru saja menghembuskan nafas pertama kedunia, suara lengkingan tangis yg berusaha memanggil “ibu” seakan terdengar begitu keras, layaknya sekelompok penyanyi yg tergabung dalam satu paduan suara atau koor yg bernyanyi dengan teknik falsetto pada jangkauan nada alto.
Massa lalu, setiap sudut terkadang ingin dilupakan karena dirasa begitu pahit, atau mungkin ingin trus mengenang disetiap inci otak karena begitu manis. Diantara roda waktu yg terus berputar dan tak pernah kembali, apakah ini yg namanya “perpisahan”.
Di Kota yg pernah diterjang Tsunami desember 2004 lalu, dan di propinsi yg pernah dilanda konflik selama hampir 30 tahun, cerita itu bermula. Sebuah istana kecil yg dihuni 5 orang pemuda hidup dengan penuh damai, meski perbedaan warna kulit, keyakinan, hingga cara berpikir terbentang luas.
Kebersamaan itu memang tidak berlangsung lama, namun mereka bagaikan keluarga, teman, mitra ataupun sahabat. Huff… terlalu susah menyebutkan sebagai apa mereka, tapi yg pasti, dengan waktu yg singkat itu telah membangun sebuah ikatan emosional yg sangat kuat.
Suatu malam seorang pemuda berjalan kaki menyusuri sebuah lorong, sambil menghisap sebatang rokok filter ia menelpon seorang teman dan menangis tersedu. Ia bertanya, dimanakah surga itu..??, akankah ia bisa berjalan sendiri kesana? dan dengan nada ragu iapun bertanya kembali, “teman… akankah kita bertemu disana…???”
Add comment March 2, 2009
..LuPa..
Bayangkan ketika dokter memfonis diri kita dengan penyakit leukemia (kanker darah), penyakit kanker yg menyerang sel-sel darah putih yg diproduksi oleh sum-sum tulang. Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal.
Pada umumnya orang yg mengidap penyakit ini selalu berakhir teragis, yaitu kematian, ya…meski mati itu menjadi suatu keharusan untuk setiap orang, setidaknya ada 2 hal yg bisa dilakukan, yaitu berusaha sekuat tenaga atau menikmati sisa hidup yg diperkirakan dokter dari segi medis yg gak pernah pasti.
Untuk aku leukemia tidak terlalu mengerikan, kalau dibandingkan dengan penyakit yg wajib dimiliki setiap insan dibumi, yaitu lupa. Karena untuk aku penyakit ini bisa menyerang kapanpun, siapapun, dan dimanapun. Disetiap distorsi roda kehidupan, mungkin semua yg ada dalam diri kita sama sekali gak bisa menjamin, kapan kita akan tersadarkan.
Sepertinya sekarang semua sudah mulai terlihat jelas, meski sesekali berwarna abu-abu, tapi bukankah kita bisa belajar tentang hidup dari rumus=melihat, merasakan, memikirkan, memutuskan, hingga memperbaiki.
Suatu hari seorang teman berkata, hidup itu terlalu sulit untuk dimengerti, menjadi seorang yg berimanpun tidak akan menjamin terhindar dari penyakit yg bernama lupa. Atau seorang teman lainnya megatakan, Hidup itu akan lebih muda untuk seorang pelacur, karena ia hanya memiliki 2 tanggung jawab, yaitu, kepuasaan konsumen dan tuhan.
Tapi menurut aku hanya ada 1 pertanyaan, yaitu, siapa yg akan menciptakan vaksin anti lupa…????
Add comment February 22, 2009
Penertiban = Pencurian
Kalau dilihat dari kata dasarnya, kedua kalimat ini memiliki arti yg jauh berbeda. Penertiban, kata dasarnya adalah tertib, sementara Pencurian, kata dasarnya adalah curi. Meski memiliki arti dan makna yg berbeda, tapi kedua kalimat itu berhubungan dalam 1 ranjang menurut aku.
Beberapa waktu yg lalu, Polda Aceh melakukan penertiban kepada semua pengguna jalan untuk memenuhi kriteria standard dalam berkendaraan. Yang dimaksud standard adalah, mulai dari kelengkapan surat-surat sampai dengan keamanan berkendara.
Kalau dilihat dari segi positif, jelas penertiban itu menjadi hal yg sangat positif dan memang harus dipatuhi. Tapi etika baik ini juga memunculkan pandangan yg negatif oleh para bikers, contohnya setiap kali bertemu dengan teman sebaya kita selalu membahas hal ini, maklumlah kita semua bikers sejati. Obrolan kita soal hal itu, diawali dari mengeluh sampai mencaci maki…hehehehe…menurut kita penertiban yg dilakukan oleh sipenguasa jalan raya (POLANTAS) sama sekali tidak menguntungkan, malah buntung. Wajar aja, karena semakin ditertibkannya penggunaan helm standard, semakin susah kita menjaga si-helm agar gak hilang, huff…udah kayak anak bayi aja kemana-mana harus dibawa.
Bisa dibilang aku dan 3 orang teman dekatku memang belum siap menjadi ayah, buktinya helm standard kita hilang semua…hahahaha….dan akhirnya kita berempatpun melakukan survey kecil-kecilan, meski survey itu masih dikalangan antara temen ke-temen, tapi menurut kita keabsahannya terjamin…!!!
Dari 10 orang Bikers yg termasuk dalam koresponden survey kita, ternyata 6 diantaranya mengalami buntung seperti kita, ya…mereka juga kehilangan pelindung kepala untuk berkendara (Helm). Sementara 4 orang koresponden lain mengatakan, mereka menjaga helmnya ekstra ketat, contohnya membawa helm sampai kedalam kelas kampus sekalipun.
Setuju atau enggak setuju menurut kita hal itu membuat sangat tidak nyaman (idealis mode on)….Bayangkan kalau mau ke WC umunpun harus bawa masuk helm….hahahahaha….Tapi disini seakan-akan pihak penertib cuek…Disalah satu Razia penertiban dekat simpang jam Banda Aceh beberapa hari lalu, terlihat sipenertib berteriak dengan nada yg keras dan menakutkan “woi…pakai helm kau kalau naik motor, yg diboncengan juga pakai helm”. Kata-kata yg diteriakan memang dak termasuk dalam golongan kata-kata kasar, tapi pertanyaannya adalah..???
- Apakah si-penertib gak sadar, kalau peraturan ini meningkatkan angka pencurian….ya…meski yg dicuri helm…tapi tetap aja kriminal…
- Apakah si-penertib harus berteriak dengan nada yg keras dan menakutkan??? bukannya beberapa waktu lalu mereka mengatakan kalau mereka adalah mitra masyarakat…(POLMAS)…
- Apakah harus berteriak dengan nada yg keras dan menakutkan….sementara kita-kita masih trauma konflik…
- Bagaimana kalau pengendara masih belum punya cukup duit untuk beli helm standard yg harganya diatas 50 ribu rupiah…
- Apakah ada toko yg jual kreadit helm standard…hehehe
Ok..!!! kalau kita kembali ke paragraf no.1 apa kamu sependapat…..silahkan comment….!!!
Add comment February 9, 2009
“Damai” ala Kawula Muda Langsa
04 Des 08 Obrolan santai soal perdamaian ala kawula muda Langsa dalam acara Minum juice bareng (MJB) di Stroom Cafe bersama 45 orang pemuda dari Universitas Samudera (UNSAM) dan pendengar setia Radio Cindy FM Kota Langsa
Klik :
Add comment December 8, 2008
Masa depan hari ini, esok, atau sekarang..???
Sudah pernah baca Novel terkenal karya Andrea Hirata yang berjudul laskar pelangi, itu..tu… novel yang sudah di filmkan dan mendapat respon yang sangat luar biasa dari masyarakat pecinta film indonesia. Lintang, adalah salah satu tokoh dalam film itu, ia anak dari keluarga nelayan miskin dipedalaman Bangka Belitung.
Dalam Laskar pelangi, setiap harinya lintang harus mendayung sepeda bututnya sejauh 100 kilometer untuk sampai kesekolah, dan usaha keras lintang itu membuatnya berhasil mengenyam pendidikan dasar 9 tahun yang dicanangkan Pemerintah Indonesia sejak tahun 1994.
Wah…wah…wah…salut untuk lintang yang mengikuti rencana pemerintah kita. Tapi kalau saya boleh membandingkan, nasib lintang sedikit beruntung daripada tokoh dicerita saya ini.
Apa yang kamu pikirkan tentang remaja lelaki di umur 16 tahun..?
Mungkin tentang seorang remaj yang ingin menunjukkan jati dirinya kesemua orang…, atau seorang remaja yang rajin membaca buku pelajaran di tahun pertama ia masuk sekolah Menengah Atas (SMA). Namun pendapat itu jauh berbeda ketika saya melihat seorang remaja lelaki bertubuh kerdil, kurus, dan berkulit hitam mengkilat dibalut dengan keringat dan sedang sibuk bekerja membajak sawah, ditengah teriknya panas matahari siang itu.
Namanya adalah Muksal mina, umurnya sekarang baru 16 tahun. Ia harus menjadi mesin untuk melanjutkan hidup keluarganya. Sosok seorang ayah yang seharusnya menanggung biaya hidup keluarga telah pergi selamanya sejak ia berumur 7 tahun. Hidup muksal mina drastis berubah ketika ayahnya meninggal menjadi korban konflik Aceh, ia harus rela putus sekolah dan bekerja demi kelangsungan hidup ibu dan ketiga adiknya.
“Setelah ayah enggak ada lagi, semua kebutuhan keluarga saya yang menanggung, apalagi saya punya tiga orang adik yang harus saya biaya, dan sekarang mereka sudah bisa sekolah”
Bagi Muksal larut dalam kesedihan adalah satu hal yang bodoh. Muksal berpikir sekarang semua kewajiban ayahnya telah menjadi kewajibannya sebagai anak tertua dalam keluarga. Termaksud membiayai ketiga adiknya sekolah. Layaknya manusia biasa yang memiliki rasa cemburu, Muksalpun demikian, terkadang ia merasa cemburu kalau melihat teman-temannya berpakaian rapi dengan seragam sekolah. “Kepinginnya sekolah lagi…kan bisa rapi, enggak kalau searang kan seperti gembel, tapi ya……bagaiaman….??? kalau saya sekolah gak bisa kerja”.
Sepertinya Muksal adalah seorang yang giat bekerja, sangkin giatnya..!!! pekerjaannya telah merampas hak sejatinya untuk bermain dan belajar.. Tapi muksal ikhlas melakukannya, itu semua dilakoninya demi kelangsungan hidup keluarganya. Jika pagi datang ia telah siap dengan jetor (alat untuk membajak sawah) milik tetangganya. Padahal untuk ukuran remaja seumurannya sangatlah tidak wajar bekerja membajak sawah.
“Payah juga bawa jetor karena kita masih kecil, karena ada tanah yang keras dan kalau ada sawah yang banyak airnya susah juga, terus panas lagi, kalau hujan juga susah, makanya serba salah. tapi ya…mau apalagi….”
Keadaan seperti itu yang memaksa Muksal untuk bekerja keras, namun usaha untuk menghidupi keluarga tidak sampai disitu saja, terkadang tak ada kata istirahat baginya. Selain membajak sawah, dimalam hari ia pergi kelaut untuk membantu nelayan mencari ikan. Namun lagi-lagi bekerja di laut bukanlah pekerjaan yang wajar untuk anak seumurnya.
“Di laut enggak enak, enak kali didarat daripada di laut. Di laut anginnya kencang, ombaknya besar….kadang saya takut juga”
Muksal bercerita, ketika rasa takut datang saat ia berada dilaut, biasanya untuk mengusir rasa takut itu ia hanya mengingat saat bercanda tawa bersama ibu dan adik-adiknya di rumahnya yang hanya berukuran 4×7 meter beratapkan daun rumbia. Namun sesekali rasa sedih itu tak dapat ia bendung, dan muksalpun menangis jika mengingat cita-citanya untuk menjadi seorang guru. Tapi ia yakin, kelak salah satu dari ketiga adiknya dapat mewujudkan cita-cita itu. Meski sekarang muksal hanya bisa memberikan uang sebesar 30.000 rupiah per-hari untuk keluarganya.
1 comment November 21, 2008
“minoritas”
Pagi itu saya berkunjung kesekolah methodist yang berlokasi di jalan pocut baren peunayong Banda Aceh. Saya melihat sekelompok siswa SMP sedang asyik bermain sepak bola dilapangan sekolah, sedangkan para siswinya lebih memilih duduk bersama temannya sambil bercanda tawa. Sekolah ini didominasi oleh warga keturunan Tionghoa, namun pendengaran saya mangkap mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi mereka daripada bahasa nenek moyangnya.
Mata saya tertuju ke arah yang lain, terlihat para orang tua sedang menunggu anaknya didepan pagar sambil menjinjing bekal makanan. Apa sih…yang mereka lakukan, saya bertanya ke “Miela”, ibu dari “Eldia” siswi kelas tiga disekolah itu. ” Kalau beli makan diluarkan mahal, turus juga enggak cocok dengan rasanya”, wah..wah..wah… ternyata berbeda ras, berbeda pula selera makannya. Kalau soal rasa….setiap orang pasti punya pilihan sendiri, Tapi…!!! dalam dunia pendidikan tidak ada kata beda, terbukti hampir 50% guru yang mengajar disitu dari suku Aceh. Mereka saling hidup berdampingan, tak ada yang merasa sebagai minoritas atau mayoritas.
Semasa konflik dulu, kaum Tionghoa adalah salah satu kaum yang didiskriminasi oleh pihak-pihak yang enggak jelas atau sering disebut “OTK = orang yang tak dikenal”. Kedaan ini membuat banyak kaum minoritas angkat kaki dari bumi Serambi Mekkah, mereka mengungsi keluar Aceh dengan alasan keamanan. Salah satunya “Elvina” gadis manis yang memilik kulit putih dan bermata cipit ini terpaksa mengungsi ke Kota Medan, “dulu ada kabar yang beredar kalau orang-orang chinese mau di bacok, di culik, karena itu saya dan saudara saya mengungsi”.
MoU Helsinki menghantarkan Elvina kembali ke Aceh, hanya berbekal percaya akan MoU Elvina pulang ke Aceh dan mencoba kembali menata hidup di Kota yang pernah hancur karena bencana alam Tsunami. Gadis ini sekarang menginjak usia 23 tahun, di usianya yang sekarang iya masih merasa didiskriminasi oleh masyarakat, “biasanya kalau jalan ditempat-tempat umum banyak yang ganggu dengan bahasa china yang gak jelas gitu”, karena alasan ini, Elvina lebih senang berteman dengan sesama Tionghoa.
Tapi Andi lim 25 tahun berpendapat berbeda, meskipun dalam tubuhnya mengalir darah Tionghoa, Andi tidak merasa didiskriminasi dalam lingkungannya, bahkan, ia sendiri lebih banyak bergaul dengan teman-temannya yang bersuku Aceh daripada sesama kaum Tionghoa, sampai-sampai label sebagai China Aceh melekat pada dirinya karena kefassihannya berbahasa Aceh dan hobinya pergi ngopi.
“Sebenarnya kaum Tionghoa tidak tertutup, tapi mungkin ada sebagian orang Tionghoa yang merasa susah untuk berbaur dilingkungan, bukannya kalau kita baik ke orang, orang juga akan baik ke-kita”, tutur Andi dengan tegas disela perbincangan kami yang berlangsung satu jam lamanya.
Iklim damai Aceh juga dirasakan oleh kaum Tionghoa, sekarang mereka bisa bekerja dengan tenang tanpa harus khawatir dengan rentetan suara senjata dan dentuman bom yang seakan menina bobo-kan kita di sunyinya malam. Diakhir perbincangan saya dengan Andi, ia hanya berpesan, “warna kulit boleh berbeda tapi kita juga anak Aceh”, Sementara Elvina hanya berharap, “semua orang ingin hidup damai, janganlah kita saling membedakan, mungkin tuhan menciptakan kita berbeda-beda dengan satu rahasia yang belum kita ketahui “.
2 comments November 18, 2008




