1/1 pergi
July 22, 2009
Tidak ada alasan yang pasti kenapa tiba-tiba satu/satu dari mereka pergi dan enggan datang kembali. Padahal awalnya mereka hidup saling berdampingan, saling melindungi, saling memahami, saling berbagi hingga saling menyayangi. Rumah kecil berukuran setengah lapangan bola voli itu terlihat seperti sebuah Restoran baru yang kurang berpromosi, alias sepi.
Alkisah dahulu di rumah itu hidup beberapa orang pemuda yang sebagian besar dari mereka adalah pendatang di Kota yang pernah hancur oleh gempa dan gelombang tsunami 26 desember 2004 lalu. Semua merasa seperti seekor itik yang hilang dari kelompok dan menemukan keluarga barunya. Keluarga yang begitu demokrasi, tidak ada perbedaan gender, background atau umur sekalipun. Hingga akhirnya tidak satupun yang merasa sebagai minoritas atau mayoritas.
Namun ternyata kebersamaan itu tidak berlangsung lama, semua hancur dengan cepat dan mudah tanpa ada alasan yang pasti. Jangankan untuk kembali memperbaiki semua yang telah hilang, untuk sekedar say hi lewat pesan singkat (sms) saja, sepertinya masih enggan.
Kemesraan, kecerian dan kebersamaan itu pudar dan luntur tanpa sebab ?, hanya karena kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Namun, apakah diam adalah sebuah jawaban, atau kita semua hanya harus menunggu hingga nanti mereka mulai memungut kembali rasa sakit hati yang telah tercecer dan masih basah itu.
Entry Filed under: Uncategorized. .



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed