Sampaikan Damai lewat Didong

July 21, 2009

Ini adalah cerita seorang pemuda berumur 21 tahun, namanya Ervan Yoga, Evan sapaan akrab pemuda yg tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi di Takengon Aceh Tengah. Sebagai mahasiswa tidak ada yang menarik dari sisi hidupnya, setiap hari ia belajar keras untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang ahli di bidang pertanian.

Disisi lain sejak dilahirkan Evan mewarisi darah seni dari kakek dan ayahnya, dan bisa dibilang ini adalah bakat keturunan keluarga.

Dahulu kakeknya adalah seorang Ceh Didong, kesenian asli dari daerah dataran tinggi gayo. Dan kemudian ayahnya, yang juga pernah menggeluti dunia tarik suara sebagai seorang Ceh Didong di salah satu klub Didong yang ada di Aceh Tengah.

Dengan mengikuti berbagai pentas Didong, perjalanan karir Evan diawali sejak ia duduk di bangku kelas 1 SMP (sekolah menengah pertama). Karena bakat alami yang ia miliki Evan sempat tergabung di dua klub Didong ternama di Aceh Tengah, yaitu “Kemara Bujang dan “Kabinet Bebesen”.

Mengenang masa pahit ketika konflik masih berkecamuk di Aceh, bisa dikatakan Didong tidak pernah dipentaskan lagi, karena kesenian yang satu ini biasa dipentaskan pada malam hari, atau bahkan semalam suntuk. Kalaupun bisa, Didong tidak dipentaskan didaerah asalnya, malah didaerah luar Aceh.

Hal itu mengingatkan Evan kembali,  ketika ia diundang untuk mementaskan Didong di Yogyakarta, namum pementasan itu gagal karena ia beserta rombongan tidak bisa keluar dari Aceh Tengah, jalan utama yang menghubungkan antara Bireun dan Takengon terlalu bahaya untuk dilewati di zaman konflik.

Kini angin segar perdamaian telah menghembuskan Didong untuk kembali dipentaskan didaerah asalnya, yaitu Aceh Tengah. Didong adalah seni tradisional yang dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan moral, agama serta pesan damai ketengah-tengah masyarakat.

Untuk Evan, Didong adalah kesenian asli daerah yang harus dipertahankan, tapi sayang sekarang tidak banyak pemuda sepertinya, yang mau peduli terhadap seni budaya leluhur. Evan sendiri khawatir, kalau-kalau sudah tidak ada lagi generasi yang mau mementaskan Didong. Sebuah kesenian yang memainkan syair-syair indah, yang berisikan pesan-pesan moral, agama serta damai.

Entry Filed under: coretan damai. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

July 2009
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

Top Posts

Recent Posts

Recent Comments

alexanderadhitya on Dari dya
alexanderadhitya on Dari dya
izal on Masa depan hari ini, esok, ata…
andretaufan on “minoritas”
alex© on “minoritas”

ABOUT ME

Categories

Archives

yang liatin…

friends

peace

Flickr Photos

On a lone winter evening, when the frost Has wrought a silence.

Tune Raider

Rainier snow fun

More Photos