Masih Abu-abu
July 18, 2009
Kalau hidup ini hanya dikaitkan dari warna dasar, maka iya akan merah, kuning, dan biru. Tapi 3 warna dasar itu terlalu mustahil untuk merangkumkan cerita dalam hidup yg terkadang harus mendengar, melihat, merasakan, menhormati, hingga nantinya harus memutuskan. Maka tepatlah untuk orang-orang yang mengatakan hidup itu adalah warna-warni.
Dalam sebuah perjalanan yang sangat sulit dan berkatalah seseorang dengan yakinnya, “inilah kenyataan”. Namun apakah kita harus langsung percaya dengan perkataan tadi, meskipun dya berjalan disamping kita, dya ikut merasakan, ikut melihat, dan ikut memutuskan.
Itu saja belum cukup, dalam perjalanan seharusnya iya juga memiliki rasa menghormati, sedekat apapun hubungan itu, mau itu sahabat, adik, kakak, abang dan saudara sekalipun. Ia harus mengingat setiap manusia memiliki hati, memiliki pola pikir, memiliki sikap yang semua itu tidak pernah sama, walau kembar siam sekalipun.
Kalau saja semua orang mau berpikir akan impact dan efect dari sebuah perkataan dan tingkah laku dari perbuatan, mungkin kaka, bimbim dan teman-teman yang tergabung dalam Group music slank tidak akan menciptakan lagu dengan judul orkes sakit hati.
Karena ketika rasa sakit itu datang lagi, serapat apa kita menyimpan suatu kebencian? setabah apa kita menahan hujatan? sekuat apa kita menahan nafsu emosi? dan sebijaksana apa kita berpikir dan memutuskan. Hingga akhirnya merah, kuning, biru hanya menjadi dasar dari sebuah warna. Meskipun abu-abu menjadi warna paling dominan dalam setiap pilihan dan iya bisa menjadi hitam atau putih sekalipun, itu hanya akan menjadi suatu pilihan nantinya.
Entry Filed under: Hidup. .



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed