Archive for July, 2009

1/1 pergi

dreTidak ada alasan yang pasti kenapa tiba-tiba satu/satu dari mereka pergi dan enggan datang kembali. Padahal awalnya mereka hidup saling berdampingan, saling melindungi, saling memahami, saling berbagi hingga saling menyayangi. Rumah kecil berukuran setengah lapangan bola voli itu terlihat seperti sebuah Restoran baru yang kurang berpromosi, alias sepi.

Alkisah dahulu di rumah itu hidup beberapa orang pemuda yang sebagian besar dari mereka adalah pendatang di Kota yang pernah hancur oleh gempa dan gelombang tsunami 26 desember 2004 lalu. Semua merasa seperti seekor itik yang hilang dari kelompok dan menemukan keluarga barunya.  Keluarga yang begitu demokrasi, tidak ada perbedaan gender, background atau umur sekalipun. Hingga akhirnya tidak satupun yang merasa sebagai minoritas atau mayoritas.

Namun ternyata kebersamaan itu tidak berlangsung lama, semua hancur dengan cepat dan mudah tanpa ada alasan yang pasti. Jangankan untuk kembali memperbaiki semua yang telah hilang, untuk sekedar say hi lewat pesan singkat (sms) saja, sepertinya masih enggan.

Kemesraan, kecerian dan kebersamaan itu pudar dan luntur tanpa sebab  ?, hanya karena kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Namun,  apakah diam adalah sebuah jawaban, atau kita semua hanya harus menunggu hingga nanti mereka mulai memungut kembali rasa sakit hati yang telah tercecer dan masih basah itu.

Add comment July 22, 2009

Sampaikan Damai lewat Didong

Ini adalah cerita seorang pemuda berumur 21 tahun, namanya Ervan Yoga, Evan sapaan akrab pemuda yg tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi di Takengon Aceh Tengah. Sebagai mahasiswa tidak ada yang menarik dari sisi hidupnya, setiap hari ia belajar keras untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang ahli di bidang pertanian.

Disisi lain sejak dilahirkan Evan mewarisi darah seni dari kakek dan ayahnya, dan bisa dibilang ini adalah bakat keturunan keluarga.

Dahulu kakeknya adalah seorang Ceh Didong, kesenian asli dari daerah dataran tinggi gayo. Dan kemudian ayahnya, yang juga pernah menggeluti dunia tarik suara sebagai seorang Ceh Didong di salah satu klub Didong yang ada di Aceh Tengah.

Dengan mengikuti berbagai pentas Didong, perjalanan karir Evan diawali sejak ia duduk di bangku kelas 1 SMP (sekolah menengah pertama). Karena bakat alami yang ia miliki Evan sempat tergabung di dua klub Didong ternama di Aceh Tengah, yaitu “Kemara Bujang dan “Kabinet Bebesen”.

Mengenang masa pahit ketika konflik masih berkecamuk di Aceh, bisa dikatakan Didong tidak pernah dipentaskan lagi, karena kesenian yang satu ini biasa dipentaskan pada malam hari, atau bahkan semalam suntuk. Kalaupun bisa, Didong tidak dipentaskan didaerah asalnya, malah didaerah luar Aceh.

Hal itu mengingatkan Evan kembali,  ketika ia diundang untuk mementaskan Didong di Yogyakarta, namum pementasan itu gagal karena ia beserta rombongan tidak bisa keluar dari Aceh Tengah, jalan utama yang menghubungkan antara Bireun dan Takengon terlalu bahaya untuk dilewati di zaman konflik.

Kini angin segar perdamaian telah menghembuskan Didong untuk kembali dipentaskan didaerah asalnya, yaitu Aceh Tengah. Didong adalah seni tradisional yang dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan moral, agama serta pesan damai ketengah-tengah masyarakat.

Untuk Evan, Didong adalah kesenian asli daerah yang harus dipertahankan, tapi sayang sekarang tidak banyak pemuda sepertinya, yang mau peduli terhadap seni budaya leluhur. Evan sendiri khawatir, kalau-kalau sudah tidak ada lagi generasi yang mau mementaskan Didong. Sebuah kesenian yang memainkan syair-syair indah, yang berisikan pesan-pesan moral, agama serta damai.

Add comment July 21, 2009

Masih Abu-abu

Kalau hidup ini hanya dikaitkan dari warna dasar, maka iya akan merah, kuning, dan biru. Tapi 3 warna dasar itu terlalu mustahil untuk merangkumkan cerita dalam hidup yg terkadang harus mendengar, melihat, merasakan, menhormati, hingga nantinya harus memutuskan. Maka tepatlah untuk orang-orang yang mengatakan hidup itu adalah warna-warni.

Dalam sebuah perjalanan yang sangat sulit dan berkatalah seseorang dengan yakinnya, “inilah kenyataan”. Namun apakah kita harus langsung percaya dengan perkataan tadi, meskipun dya berjalan disamping kita, dya ikut merasakan, ikut melihat, dan ikut memutuskan.

Itu saja belum cukup, dalam perjalanan seharusnya iya juga memiliki rasa menghormati, sedekat apapun hubungan itu, mau itu sahabat, adik, kakak, abang dan saudara sekalipun. Ia harus mengingat setiap manusia memiliki hati, memiliki pola pikir, memiliki sikap yang semua itu tidak pernah sama, walau kembar siam sekalipun.

Kalau saja semua orang mau berpikir akan impact dan efect dari sebuah perkataan dan tingkah laku dari perbuatan, mungkin kaka, bimbim dan teman-teman yang tergabung dalam Group music slank tidak akan menciptakan lagu dengan judul orkes sakit hati.

Karena ketika rasa sakit itu datang lagi, serapat apa kita menyimpan suatu kebencian? setabah apa kita menahan hujatan? sekuat apa kita menahan nafsu emosi? dan sebijaksana apa kita berpikir dan memutuskan. Hingga akhirnya merah, kuning, biru hanya menjadi dasar dari sebuah warna. Meskipun abu-abu menjadi warna paling dominan dalam setiap pilihan dan iya bisa menjadi hitam atau putih sekalipun, itu hanya akan menjadi suatu pilihan nantinya.

Add comment July 18, 2009


 

July 2009
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

Top Posts

Recent Posts

Recent Comments

alexanderadhitya on Dari dya
alexanderadhitya on Dari dya
izal on Masa depan hari ini, esok, ata…
andretaufan on “minoritas”
alex© on “minoritas”

ABOUT ME

Categories

Archives

yang liatin…

friends

peace

Flickr Photos

On a lone winter evening, when the frost Has wrought a silence.

Tune Raider

Rainier snow fun

More Photos