Akankah…???
March 2, 2009
Rasanya “Tuhan” tidak adil, kenapa..? ia begitu cepat mengambil semua kebahagian yg baru saja disematkan dalam hidup yg berwarna abu-abu ini. Seperti bayi yg baru saja menghembuskan nafas pertama kedunia, suara lengkingan tangis yg berusaha memanggil “ibu” seakan terdengar begitu keras, layaknya sekelompok penyanyi yg tergabung dalam satu paduan suara atau koor yg bernyanyi dengan teknik falsetto pada jangkauan nada alto.
Massa lalu, setiap sudut terkadang ingin dilupakan karena dirasa begitu pahit, atau mungkin ingin trus mengenang disetiap inci otak karena begitu manis. Diantara roda waktu yg terus berputar dan tak pernah kembali, apakah ini yg namanya “perpisahan”.
Di Kota yg pernah diterjang Tsunami desember 2004 lalu, dan di propinsi yg pernah dilanda konflik selama hampir 30 tahun, cerita itu bermula. Sebuah istana kecil yg dihuni 5 orang pemuda hidup dengan penuh damai, meski perbedaan warna kulit, keyakinan, hingga cara berpikir terbentang luas.
Kebersamaan itu memang tidak berlangsung lama, namun mereka bagaikan keluarga, teman, mitra ataupun sahabat. Huff… terlalu susah menyebutkan sebagai apa mereka, tapi yg pasti, dengan waktu yg singkat itu telah membangun sebuah ikatan emosional yg sangat kuat.
Suatu malam seorang pemuda berjalan kaki menyusuri sebuah lorong, sambil menghisap sebatang rokok filter ia menelpon seorang teman dan menangis tersedu. Ia bertanya, dimanakah surga itu..??, akankah ia bisa berjalan sendiri kesana? dan dengan nada ragu iapun bertanya kembali, “teman… akankah kita bertemu disana…???”
Entry Filed under: Hidup. .



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed