Archive for February, 2009
..LuPa..
Bayangkan ketika dokter memfonis diri kita dengan penyakit leukemia (kanker darah), penyakit kanker yg menyerang sel-sel darah putih yg diproduksi oleh sum-sum tulang. Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal.
Pada umumnya orang yg mengidap penyakit ini selalu berakhir teragis, yaitu kematian, ya…meski mati itu menjadi suatu keharusan untuk setiap orang, setidaknya ada 2 hal yg bisa dilakukan, yaitu berusaha sekuat tenaga atau menikmati sisa hidup yg diperkirakan dokter dari segi medis yg gak pernah pasti.
Untuk aku leukemia tidak terlalu mengerikan, kalau dibandingkan dengan penyakit yg wajib dimiliki setiap insan dibumi, yaitu lupa. Karena untuk aku penyakit ini bisa menyerang kapanpun, siapapun, dan dimanapun. Disetiap distorsi roda kehidupan, mungkin semua yg ada dalam diri kita sama sekali gak bisa menjamin, kapan kita akan tersadarkan.
Sepertinya sekarang semua sudah mulai terlihat jelas, meski sesekali berwarna abu-abu, tapi bukankah kita bisa belajar tentang hidup dari rumus=melihat, merasakan, memikirkan, memutuskan, hingga memperbaiki.
Suatu hari seorang teman berkata, hidup itu terlalu sulit untuk dimengerti, menjadi seorang yg berimanpun tidak akan menjamin terhindar dari penyakit yg bernama lupa. Atau seorang teman lainnya megatakan, Hidup itu akan lebih muda untuk seorang pelacur, karena ia hanya memiliki 2 tanggung jawab, yaitu, kepuasaan konsumen dan tuhan.
Tapi menurut aku hanya ada 1 pertanyaan, yaitu, siapa yg akan menciptakan vaksin anti lupa…????
Add comment February 22, 2009
Penertiban = Pencurian
Kalau dilihat dari kata dasarnya, kedua kalimat ini memiliki arti yg jauh berbeda. Penertiban, kata dasarnya adalah tertib, sementara Pencurian, kata dasarnya adalah curi. Meski memiliki arti dan makna yg berbeda, tapi kedua kalimat itu berhubungan dalam 1 ranjang menurut aku.
Beberapa waktu yg lalu, Polda Aceh melakukan penertiban kepada semua pengguna jalan untuk memenuhi kriteria standard dalam berkendaraan. Yang dimaksud standard adalah, mulai dari kelengkapan surat-surat sampai dengan keamanan berkendara.
Kalau dilihat dari segi positif, jelas penertiban itu menjadi hal yg sangat positif dan memang harus dipatuhi. Tapi etika baik ini juga memunculkan pandangan yg negatif oleh para bikers, contohnya setiap kali bertemu dengan teman sebaya kita selalu membahas hal ini, maklumlah kita semua bikers sejati. Obrolan kita soal hal itu, diawali dari mengeluh sampai mencaci maki…hehehehe…menurut kita penertiban yg dilakukan oleh sipenguasa jalan raya (POLANTAS) sama sekali tidak menguntungkan, malah buntung. Wajar aja, karena semakin ditertibkannya penggunaan helm standard, semakin susah kita menjaga si-helm agar gak hilang, huff…udah kayak anak bayi aja kemana-mana harus dibawa.
Bisa dibilang aku dan 3 orang teman dekatku memang belum siap menjadi ayah, buktinya helm standard kita hilang semua…hahahaha….dan akhirnya kita berempatpun melakukan survey kecil-kecilan, meski survey itu masih dikalangan antara temen ke-temen, tapi menurut kita keabsahannya terjamin…!!!
Dari 10 orang Bikers yg termasuk dalam koresponden survey kita, ternyata 6 diantaranya mengalami buntung seperti kita, ya…mereka juga kehilangan pelindung kepala untuk berkendara (Helm). Sementara 4 orang koresponden lain mengatakan, mereka menjaga helmnya ekstra ketat, contohnya membawa helm sampai kedalam kelas kampus sekalipun.
Setuju atau enggak setuju menurut kita hal itu membuat sangat tidak nyaman (idealis mode on)….Bayangkan kalau mau ke WC umunpun harus bawa masuk helm….hahahahaha….Tapi disini seakan-akan pihak penertib cuek…Disalah satu Razia penertiban dekat simpang jam Banda Aceh beberapa hari lalu, terlihat sipenertib berteriak dengan nada yg keras dan menakutkan “woi…pakai helm kau kalau naik motor, yg diboncengan juga pakai helm”. Kata-kata yg diteriakan memang dak termasuk dalam golongan kata-kata kasar, tapi pertanyaannya adalah..???
- Apakah si-penertib gak sadar, kalau peraturan ini meningkatkan angka pencurian….ya…meski yg dicuri helm…tapi tetap aja kriminal…
- Apakah si-penertib harus berteriak dengan nada yg keras dan menakutkan??? bukannya beberapa waktu lalu mereka mengatakan kalau mereka adalah mitra masyarakat…(POLMAS)…
- Apakah harus berteriak dengan nada yg keras dan menakutkan….sementara kita-kita masih trauma konflik…
- Bagaimana kalau pengendara masih belum punya cukup duit untuk beli helm standard yg harganya diatas 50 ribu rupiah…
- Apakah ada toko yg jual kreadit helm standard…hehehe
Ok..!!! kalau kita kembali ke paragraf no.1 apa kamu sependapat…..silahkan comment….!!!
Add comment February 9, 2009


