<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: &#8220;minoritas&#8221;</title>
	<atom:link href="http://andretaufan.wordpress.com/2008/11/18/minoritas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://andretaufan.wordpress.com/2008/11/18/minoritas/</link>
	<description>Baik di konsumsi untuk siapapun</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 May 2009 23:49:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: andretaufan</title>
		<link>http://andretaufan.wordpress.com/2008/11/18/minoritas/#comment-19</link>
		<dc:creator>andretaufan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 04:44:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andretaufan.wordpress.com/?p=45#comment-19</guid>
		<description>makasih...makasih.... untuk comment nya Bg Alex...

salam kenal..
andre taufan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>makasih&#8230;makasih&#8230;. untuk comment nya Bg Alex&#8230;</p>
<p>salam kenal..<br />
andre taufan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alex&#169;</title>
		<link>http://andretaufan.wordpress.com/2008/11/18/minoritas/#comment-18</link>
		<dc:creator>alex&#169;</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 03:37:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andretaufan.wordpress.com/?p=45#comment-18</guid>
		<description>Mantap! Saya suka itu sama ucapan Andi. He&#039;s right! :)

Saya sendiri punya banyak teman warga keturunan tionghoa. Di daerah saya, Blangpidie, malah warga tionghoa ini boleh dikatakan sudah berasimilasi, apalagi yang sudah turun-temurun di sini. 

Tapi utk ukuran Banda Aceh... ada benarnya bahwa WNI turunan belum membaur. Tidak sepenuhnya salah mereka, pola pikir yang picik dan sempit dari sejumlah orang Aceh (catat: saya juga orang Aceh ini :)), membuat mereka &quot;risih&quot; utk membaur. Tapi mengelompokkan diri dalam sekomplek warga keturunan, seperti daerah pecinan bernama Peunayong, boleh jadi merupakan ciri yang harus dievaluasi ulang oleh warga keturunan. 

Percayalah... tak ada benarnya diskriminasi rasial dalam sejarah di Aceh. Hanya segelintir pengguna otak keong yg doyan mendiskriminasi begini :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mantap! Saya suka itu sama ucapan Andi. He&#8217;s right! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya sendiri punya banyak teman warga keturunan tionghoa. Di daerah saya, Blangpidie, malah warga tionghoa ini boleh dikatakan sudah berasimilasi, apalagi yang sudah turun-temurun di sini. </p>
<p>Tapi utk ukuran Banda Aceh&#8230; ada benarnya bahwa WNI turunan belum membaur. Tidak sepenuhnya salah mereka, pola pikir yang picik dan sempit dari sejumlah orang Aceh (catat: saya juga orang Aceh ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ), membuat mereka &#8220;risih&#8221; utk membaur. Tapi mengelompokkan diri dalam sekomplek warga keturunan, seperti daerah pecinan bernama Peunayong, boleh jadi merupakan ciri yang harus dievaluasi ulang oleh warga keturunan. </p>
<p>Percayalah&#8230; tak ada benarnya diskriminasi rasial dalam sejarah di Aceh. Hanya segelintir pengguna otak keong yg doyan mendiskriminasi begini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
