Archive for November, 2008

Masa depan hari ini, esok, atau sekarang..???

anak kecil yang sedang mengumpulkan kardus

Sudah pernah baca Novel terkenal karya Andrea Hirata yang berjudul laskar pelangi, itu..tu… novel yang sudah di filmkan dan mendapat respon yang sangat luar biasa dari masyarakat pecinta film indonesia. Lintang, adalah salah satu tokoh dalam film itu, ia anak dari keluarga nelayan miskin dipedalaman Bangka Belitung.

Dalam Laskar pelangi, setiap harinya lintang harus mendayung sepeda bututnya sejauh 100 kilometer untuk sampai kesekolah, dan usaha keras lintang itu membuatnya berhasil mengenyam pendidikan dasar 9 tahun yang dicanangkan Pemerintah Indonesia sejak tahun 1994.

Wah…wah…wah…salut untuk lintang yang mengikuti rencana pemerintah kita. Tapi kalau saya boleh membandingkan, nasib lintang sedikit beruntung daripada tokoh dicerita saya ini.

Apa yang kamu pikirkan tentang remaja lelaki di umur 16 tahun..?

Mungkin tentang seorang remaj yang ingin menunjukkan jati dirinya kesemua orang…, atau seorang remaja yang rajin membaca buku pelajaran di tahun pertama ia masuk sekolah Menengah Atas (SMA). Namun pendapat itu jauh berbeda ketika saya melihat seorang remaja lelaki bertubuh kerdil, kurus, dan berkulit hitam mengkilat dibalut dengan keringat dan sedang sibuk bekerja membajak sawah, ditengah teriknya panas matahari siang itu.

Namanya adalah Muksal mina, umurnya sekarang baru 16 tahun. Ia harus menjadi mesin untuk melanjutkan hidup keluarganya. Sosok seorang ayah yang seharusnya menanggung biaya hidup keluarga telah pergi selamanya sejak ia berumur 7 tahun. Hidup muksal mina drastis berubah ketika ayahnya meninggal menjadi korban konflik Aceh, ia harus rela putus sekolah dan bekerja demi kelangsungan hidup ibu dan ketiga adiknya.

“Setelah ayah enggak ada lagi, semua kebutuhan keluarga saya yang menanggung, apalagi saya punya tiga orang adik yang harus saya biaya, dan sekarang mereka sudah bisa sekolah”

Bagi Muksal larut dalam kesedihan adalah satu hal yang bodoh. Muksal berpikir sekarang semua kewajiban ayahnya telah menjadi kewajibannya sebagai anak tertua dalam keluarga. Termaksud membiayai ketiga adiknya sekolah. Layaknya manusia biasa yang memiliki rasa cemburu, Muksalpun demikian, terkadang ia merasa cemburu kalau melihat teman-temannya berpakaian rapi dengan seragam sekolah. “Kepinginnya sekolah lagi…kan bisa rapi, enggak kalau searang kan seperti gembel, tapi ya……bagaiaman….??? kalau saya sekolah gak bisa kerja”.

Sepertinya Muksal adalah seorang yang giat bekerja, sangkin giatnya..!!! pekerjaannya telah merampas hak sejatinya untuk bermain dan belajar.. Tapi muksal ikhlas melakukannya, itu semua dilakoninya demi kelangsungan hidup keluarganya. Jika pagi datang ia telah siap dengan jetor (alat untuk membajak sawah) milik tetangganya. Padahal untuk ukuran remaja seumurannya sangatlah tidak wajar bekerja membajak sawah.


“Payah juga bawa jetor karena kita masih kecil, karena ada tanah yang keras dan kalau ada sawah yang banyak airnya susah juga, terus panas lagi, kalau hujan juga susah, makanya serba salah. tapi ya…mau apalagi….”


Keadaan seperti itu yang memaksa Muksal untuk bekerja keras, namun usaha untuk menghidupi keluarga tidak sampai disitu saja, terkadang tak ada kata istirahat baginya. Selain membajak sawah, dimalam hari ia pergi kelaut untuk membantu nelayan mencari ikan. Namun lagi-lagi bekerja di laut bukanlah pekerjaan yang wajar untuk anak seumurnya.


“Di laut enggak enak, enak kali didarat daripada di laut. Di laut anginnya kencang, ombaknya besar….kadang saya takut juga”

Muksal bercerita, ketika rasa takut datang saat ia berada dilaut, biasanya untuk mengusir rasa takut itu ia hanya mengingat saat bercanda tawa bersama ibu dan adik-adiknya di rumahnya yang hanya berukuran 4×7 meter beratapkan daun rumbia. Namun sesekali rasa sedih itu tak dapat ia bendung, dan muksalpun menangis jika mengingat cita-citanya untuk menjadi seorang guru. Tapi ia yakin, kelak salah satu dari ketiga adiknya dapat mewujudkan cita-cita itu. Meski sekarang muksal hanya bisa memberikan uang sebesar 30.000 rupiah per-hari untuk keluarganya.

1 comment November 21, 2008

“minoritas”

Methodist Kota Banda Aceh

Methodist Kota Banda Aceh

Pagi itu saya berkunjung kesekolah methodist yang berlokasi di jalan pocut baren peunayong Banda Aceh. Saya melihat sekelompok siswa SMP sedang asyik bermain sepak bola dilapangan sekolah, sedangkan para siswinya lebih memilih duduk bersama temannya sambil bercanda tawa. Sekolah ini didominasi oleh warga keturunan Tionghoa, namun pendengaran saya mangkap mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi mereka daripada bahasa nenek moyangnya.

Mata saya tertuju ke arah yang lain, terlihat para orang tua sedang menunggu anaknya didepan pagar sambil menjinjing bekal makanan. Apa sih…yang mereka lakukan, saya bertanya ke “Miela”, ibu dari “Eldia” siswi kelas tiga disekolah itu. ” Kalau beli makan diluarkan mahal, turus juga enggak cocok dengan rasanya”, wah..wah..wah… ternyata berbeda ras, berbeda pula selera makannya. Kalau soal rasa….setiap orang pasti punya pilihan sendiri, Tapi…!!! dalam dunia pendidikan tidak ada kata beda, terbukti hampir 50% guru yang mengajar disitu dari suku Aceh. Mereka saling hidup berdampingan, tak ada yang merasa sebagai minoritas atau mayoritas.

Semasa konflik dulu, kaum Tionghoa adalah salah satu kaum yang didiskriminasi oleh pihak-pihak yang enggak jelas atau sering disebut “OTK = orang yang tak dikenal”. Kedaan ini membuat banyak kaum minoritas angkat kaki dari bumi Serambi Mekkah, mereka mengungsi keluar Aceh dengan alasan keamanan. Salah satunya “Elvina” gadis manis yang memilik kulit putih dan bermata cipit ini terpaksa mengungsi ke Kota Medan, “dulu ada kabar yang beredar kalau orang-orang chinese mau di bacok, di culik, karena itu saya dan saudara saya mengungsi”.

MoU Helsinki menghantarkan Elvina kembali ke Aceh, hanya berbekal percaya akan MoU Elvina pulang ke Aceh dan mencoba kembali menata hidup di Kota yang pernah hancur karena bencana alam Tsunami. Gadis ini sekarang menginjak usia 23 tahun, di usianya yang sekarang iya masih merasa didiskriminasi oleh masyarakat, “biasanya kalau jalan ditempat-tempat umum banyak yang ganggu dengan bahasa china yang gak jelas gitu”, karena alasan ini, Elvina lebih senang berteman dengan sesama Tionghoa.

Tapi Andi lim 25 tahun berpendapat berbeda, meskipun dalam tubuhnya mengalir darah Tionghoa, Andi tidak merasa didiskriminasi dalam lingkungannya, bahkan, ia sendiri lebih banyak bergaul dengan teman-temannya yang bersuku Aceh daripada sesama kaum Tionghoa, sampai-sampai label sebagai China Aceh melekat pada dirinya karena kefassihannya berbahasa Aceh dan hobinya pergi ngopi.

“Sebenarnya kaum Tionghoa tidak tertutup, tapi mungkin ada sebagian orang Tionghoa yang merasa susah untuk berbaur dilingkungan, bukannya kalau kita baik ke orang, orang juga akan baik ke-kita”, tutur Andi dengan tegas disela perbincangan kami yang berlangsung satu jam lamanya.

Iklim damai Aceh juga dirasakan oleh kaum Tionghoa, sekarang mereka bisa bekerja dengan tenang tanpa harus khawatir dengan rentetan suara senjata dan dentuman bom yang seakan menina bobo-kan kita di sunyinya malam. Diakhir perbincangan saya dengan Andi, ia hanya berpesan, “warna kulit boleh berbeda tapi kita juga anak Aceh”, Sementara Elvina hanya berharap, “semua orang ingin hidup damai, janganlah kita saling membedakan, mungkin tuhan menciptakan kita berbeda-beda dengan satu rahasia yang belum kita ketahui “.

2 comments November 18, 2008


 

November 2008
M T W T F S S
    Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Blog Stats

Top Posts

Recent Posts

Recent Comments

alexanderadhitya on Dari dya
alexanderadhitya on Dari dya
izal on Masa depan hari ini, esok, ata…
andretaufan on “minoritas”
alex© on “minoritas”

ABOUT ME

Categories

Archives

yang liatin…

friends

peace

Flickr Photos

Night - Lucid Dreams!

every gal deserves a sPAW day! heh.

Do I look like I wanna go out?

More Photos